Kata Pengantar
Puji syukur saya ucapkan kehadiat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga
berkat karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya sebagai penulis tidak lupa megucapkan banyak terimakasih kepada
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Dan tidak
lupa juga saya megucapkan terimakasih kepada kami. Dalam penyusunan
karya makalah ini penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis sendiri maupun kepada pembaca umumnya. Apabila terdapat
kekurangan dalam penulisan makalah ini, kami mohon maaf dan kami
harapkan kritikan dari Anda untuk membangun kembali karya ini menjadi
sempurna.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………………………….
Daftar Isi…………………………………………………………………………………………..
BAB I : PENDAHULUAN……………………………………………………………….
LatarBelakang……………………………………………………………………………………
1.1 Rumusan Masalah…………………………………………………………………………
1.2 Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………..
BAB II : PEMBAHASAN…………………………………………………………………
2.1. Pengertian Perkembangan Manusia………………………………………………..
2.2.Tugas-tugas perkembangan manusia………………………………………………..
2.3 Tahap-Tahap Perkembangan Manusia……………………………………………..
BAB III KESIMPULAN……………………………………………………………………
3.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………
3.2. Saran………………………………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Studi tentang perkembangan dan pertumbuhan manusia merupakan usaha
yang terus berlangsung dan berkembang. Seiring dengan perkembangannya,
studi tentang perkembangan manusia telah menjadi sebuah disiplin ilmu
dengan tujuan untuk memahami lebih dalam tentang apa dan bagaimana
proses perkembangan manusia baik secara kuantitatif maupun secara
kualitatif. Perintis awal studi ilmiah perkembangan manusia adalah
babybiographies,
sebuah jurnal yang mencatat perkembangan awal anak. Kemudian berkembang
dengan munculnya teori evolusi Charles Darwin yang pertama kali melihat
perilaku bayi adalah sebuah proses perkembangan. Pada tahun 1877 Darwin
mempublikasikan catatannya tentang perkembangan sensori, kognitif, dan
emosi anaknya di dua belas pertama kehidupannya.
Sampai dengan saat ini kajian mengenai perkembangan manusia telah
banyak menunjukkan manfaat yang signifikan.Dan salah satu manfaat dari
berkembangnya disiplin ilmu tentang perkembangan manusia ini adalah
pendidikan.Dan jika kita berbicara pendidikan tentunya unsur yang mutlak
ada ialah manusia itu sendiri.Nah, dalam hal ini kajian ataupun
teori-teori mengenai perkembangan manusia sangat dibutuhkan oleh dunia
pendidikan. Memahami proses perkembangan manusia baik itu secara fisik
maupun psikologis sanat berguna bagi para pendidik. Dengan begitu akan
menjadi petimbangan bagi pendidik dalam memilih dan memberikan materi
pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik pada
tiap tingkat perkembangan tertentu.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan saya bahas dalam makalah ini adalah :
- Apakah yang perlu kita ketahui dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia itu ?
- Mengapa kita harus mengetahui Pertumbuhan dan perkembangan fisik pada manusia ?
1.3 Tujuan Penulisan
- Mengetahui pengertian dan teori-teori pertumbuhan dan perkembangan manusia.
- Dapat memahami hal-hal yang terjdi pada tahapan perkembangan manusia.
Mengetahui betapa pentingnya mempelajari pokok bahasan dalam makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Perkembangan manusia.
Secara umum, perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang
bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali (Werner, 1969).Beberapa
psikolog membedakan arti kata ‘pertumbuhan’ dengan ‘perkembangan’, namun
beberapa tidak. Pertumbuhan bisa diartikan sebagai bertambah besarnya
ukuran badan dan fungsi fisik yang murni, sedangkan perkembangan lebih
dapat mencerminkan sifat yang khas mengenai gejala psikologis yang
muncul (Monks, Knoers, Haditono, 1982).
Di sisi lain, perkembangan juga dipandang secara menyeluruh, yang mencakup tiga aspek, yaitu:
- Perkembangan fisik, seperti perubahan tinggi dan berat.
- Perkembangan kognitif, seperti perubahan pada proses berpikir, daya ingat, bahasa.
- Perkembangan kepribadian dan social, seperti perubahan pada konsep
diri, konsep gender, hubungan interpersonal. (Atkinson, Atkinson, Smith,
Bem, Hoeksema, 1996.)
Tentunya dalam mempelajari perkembangan dan pertumbuhan manusia,
seluruh aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain. Begitu juga
dalam penggunaan di dalam konteks pendidikan, ilmu mengenai perkembangan
manusia sebaiknya dikuasai secara menyeluruh agar mendukung kompetensi
pendidik dalam memahami kondisi anak didiknya
1.2 Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan Manusia
Tugas-tugas perkembangan pada masa ini tumbuh atas dasar ketiga
dorongan ini.Dunia sosial anak pada masa ini sudah menjadi meluas, anak
sudah keluar dari lingkungan keluarga dan ini telah memasuki masa
sekolah.Dalam lingkup ini sekolah memberikan pengaruh yang cukup besar
bagi perkembangan dirinya. Di sekolah anak memperoleh hubungan social
secara lebih luas dan memperoleh pengalaman- pengalaman yang baru banyak
mempengaruhi dan membantu proses perkembangan khususnya dalam
menyelesaikan tugas-tugas perkembangan.
Ada Sembilan tugas-tugas perkembangan pada masa ini, yaitu berikut ini :
- Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan
mempelajari kehidupan fisik merupakan hal yang penting unntuk permainan
dan aktivitas fisik karena hal itu mempunyai nilai yang tinggi pada masa
anak-anak. Secara psikologis anak sebaya akan mengajarkanya.
- Membina sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai suatu organisme yang sedang berkembang
- belajar bergaul dengan teman sebaya
- Belajar berperan sebagai pria dan wanita secara tepat
- Mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca,menulis, dan berhitung dengan baik
- Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan seahri-hari
- Mengembangkan kata hati, moral, dan skala-skala nilai
- mencapai kemerdekaan pribadi
- Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan lembaga-lembaga sosial.
1.3 Tahap-Tahap Perkembangan Manusia
Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 stage yang merentang sejak kelahiran hingga kematian.
1. Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.
Hasil perkembangan ego: trust vs mistrust (percaya vs tidak percaya)
Kekuatan dasar: Dorongan dan harapan
Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang
biasa melihat bayi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok
Ibu memainkan peranan terpenting untuk memberikan perhatian positif dan
penuh kasih kepada anak, dengan penekanan pada kontak visual dan
sentuhan. Jika periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan
perasaan trust (percaya) pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini
pada dasarnya baik. Sebaliknya, bila gagal di periode ini, individu
memiliki perasaan mistrust (tidak percaya) dan akan melihat bahwa dunia
ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi. Banyak studi
tentang bunuh diri dan usaha bunuh diri yang menunjukkan betapa
pentingnya pembentukan keyakinan di tahun-tahun awal kehidupan ini.
Di awal kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar perasaan
percaya dan keyakinan bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di
muka bumi, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh sosok Ibu, atau
siapapun yang dianggap signifikan dalam memberikan kasih sayang secara
tetap.
2. Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun
Hasil perkembangan ego: autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu)
Kekuatan dasar: Pengendalian diri, keberanian, dan kemauan (
will)
Selama tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri
sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri,
melainkan juga mempelajari perkembangan motorik yang lebih halus,
termasuk latihan yang sangat dihargai:
toilet training. Di masa
ini, individu berkesempatan untuk belajar tentang harga diri dan
otonomi, seiring dengan berkembangnya kemampuan mengendalikan bagian
tubuh dan tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah. Salah satu
ketrampilan yant muncul di periode adalah kemampuan berkata TIDAK.
Sekalipun tidak menyenangkan orang tua, hal ini berguna untuk
pengembangan semangat dan kemauan.
Di sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini,
khususnya berkenaan dengan kegagalan dalam proses toilet training atau
mempelajari skill lainnya, yang mengakibatkan munculnya rasa malu dan
ragu-ragu. Lebih jauh, individu akan kehilangan rasa percaya dirinya.
3. Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun
Hasil perkembangan ego: initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah)
Kekuatan dasar: Tujuan
Pada periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang
dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain.
Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak
perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan
keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain
peran, dsb. Di masa ini, muncul sebuah kata yang sering diucapkan
seorang anak:”KENAPA?”
Sesuai dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki)
juga sedang berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut “oedipal
struggle”. Kita sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat
kelaminnya, saling menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan
menunjukkan pada anak perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini
menimbulkan perasaan bersalah.
Hubungan yang signifikan di periode ini adalah dengan keluarga inti (ayah, ibu, dan saudara).
4. Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 – 12 tahun
Hasil perkembangan ego: Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas)
Kekuatan dasar: Metode dan kompetensi
Periode ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu
sepintas hanya menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek
mental yang berarti, berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa
simak, dalam periode sebelumnya pertumbuhan dan perkembangan berbilang
bulan saja untuk manusia agar bisa tumbuh dan berkembang.
Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada
sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat,
kerajinan, dsb), serta berada di dalam konteks sosial. Bila individu
gagal menempatkan diri secara normal dalam konteks sosial, ia akan
merasakan ketidak mampuan dan rendah diri.
Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting
dalam pembentukan ego ini, sementara orang tua sekalipun masih penting
namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal.
5. Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun
Hasil perkembangan ego: Identity vs Role confusion (identitas vs kebingungan peran)
Kekuatan dasar: devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan)
Bila sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada
apa yang dilakukan untuk saya, sejak stage perkembangan ini perkembangan tergantung pada
apa yang saya kerjakan.
Karena di periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum menjadi
dewasa, hidup berubah sangat kompleks karena individu berusaha mencari
identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan
persoalan-persoalan moral.
Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai
individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari
lingkup sosial yang lebih luas. Bila stage ini tidak lancara
diselesaikan, orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran.
Hal utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan.
Di masa ini, seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik,
yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada
kesetiaan dan ketergantungan pada teman.
6. Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 tahun
Hasil perkembangan ego: Solidarity vs Isolation (Solidaritas vs isolasi)
Kekuatan dasar: affiliation and love (kedekatan dan cinta)
Langkah awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan
yang saling memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan
dan persahabatan. Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di
level yang dalam.
Kegagalan di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh
dari orang lain, dunia terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior
kepada orang lain sebagai bentuk pertahanan ego.
Hubungan yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.
7. Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65tahun
Hasil perkembangan ego: Generativity vs Self Absorption or Stagnation
Kekuatan dasar: production and care (produksi dan perhatian)
Masa ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu
cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta
berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain itu adalah masa
“berwenang” yang diidamkan sejak lama.
Tugas yang penting di sini adalah mengejawantahkan budaya dan
meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta
memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian
orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan
masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di masa ini, kita
takut akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri.
Sementara itu, ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan
interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic,
individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak
berhasil di stage ini, timbullah self-absorpsi atau stagnasi.
Yang memainkan peranan di sini adalh komunitas dan keluarga.
8. Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65tahun hingga mati
Hasil perkembangan ego: Integritas vs Despair (integritas vs keputus asaan)
Kekuatan dasar: wisdom (kebijaksanaan)
Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah
dilaluinya dengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan
kontribusi pada kehidupan, ia akan merasakan integritas.
Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia dan menjelang
kematian sebagai kelengkapan kehidupan.
Sebaliknya, orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan
merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum
menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan
jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling
benar.
BAB III
PENUTUP
. 3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang ada pada bab sebelumnya maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :
Perkembangan dan pertumbuhan manusia adalah Perkembangan dapat
diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu
(berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati.
Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang alami
individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya
yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik
menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis dan memiliki tugas serta
tahapan-tahapan perkembangan dan pertumbuhan manusia dari awal
kehidupannya hingga akhir kehidupan.
3.2 SARAN
Saran yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi perbaikan
makalah ini. Bagi para pembaca dan rekan-rekan lainnya, jika ingin
menambah wawasan dan ingin mengetahui lebih jauh maka kami mengharapkan
dengan rendah hati agar membaca buku-buku ilmiah.