(¯`*•.SEMUT DAN BELALANG•*´¯)


Beberapa tahun silam, di hutan, sekelompok semut membangun rumah merak di bawah sebuah batu besar. Saat itu musim semi, semut-semut bekerja keras mengumpulkan makanan untuk musim dingin. Ada seekor belalang yang jugga hidup di hutan yang sama. Ia hanya melompat lompat dan memainkan biloanya. Ia tidak melakukan kerja apa pun. Ia menertawakan semt sambil berkata, “ Kalian semut-semut bodoh. Kalian tak tahu  bagaimana menikmati hidup.”
Tetapi semut menjawab, “ Kami bekerja keras karena kami tak ingin kelaparn di musim dingin. Jika kamu mengerti kamu akan melakukan hal yang sama.” Akan tetapi, belalang tidak mendengarkan nsehat itu dan terus bersenang-senang.
Segera musim dingin tiba dan makanan sulit dicari. Semut-semut yang telah bekrja keras sepanjang musim semi, menikmati makanan mereka selama musim dingin. Tetapi belalang yang tidak bekerja di musim semi, kekurangn makanan, Ia kedinginan dan kelaparan.
Sejak musim dingin saat itu, belalang bertekad akan bekerja keras dan menyimpan makanan untuk masa-masa yang sulit.

(¯`*•.KELEDAI YANG MALAS•*´¯)


Seorang pedagang memiliki keledai yang sangat malas.  Setiap hari ia membaa keledainya ke kota menyebrangi sungai untuk membeli garam. Ia akan menaiikan muatan itu di atas keledai membawanya pulang ke desa. Suatu hari saat mereka menyebrangi sungai, keledai terpeleset dan terjatuh ke dalam sungai.  Semua gaam larut di air. Saat keledsi kelusr dsri sungai, ia menyadari bebannya sangat ringan.
Keledai berpikir, “ saya akan berpura-pura jatuh setiap hari agar beban yang saya panggul menjadi lebih ringan.”
Keledai menjadikan kebiasaan untuk terpeleset di sungai setiap hari. Segera pedagang menyadari tipuan keledai. Ia bermaksud memberi pelajaran pada si keledai.
Keesokan harinya, pedagang memberi gabus, bukan garam. Keledai seperti biasa, terjatuh ke air. Tetapi ketika keluar dari air, dia merasakan bebannya mejadi semakin berat. Keledai yang malas harus berusaha mengangkat bebanya. Sejak hari itu keledai memutuskan tidak pernah malas lagi.

(¯`*•.GAGAK DAN TIKUS•*´¯)


Pada suatu masa seekor burung gagak sedang mencari makanan di sebuah desa. Tetapi burung gagak yang malang itu terjerat perangkap pemburu. Burung gagak berusaha keras melepaskan tali, tetapi ia tidak berhasil. Ia menggumam, “ mati aku. Tidak ada cara untuk melarikan diri.” Tiba-tiba seekor tius melitas. Burung gagak memohon pada tikus,” Bantulah saya melepaskan diri. Saya berjanji akan membawakan makanan untukmu sselama semiggu.”
Tikus meras iba pada burung gagak dan menggigit tali perangkap itu. Ketika burung gagak bebas, ia segera terbang. Burung gagak melupakan janjinya pada tikus.
Beberapa hari berlalu,  Suatu hari burung gagak terjerat perangkap pemburu lagi. Burung gagak memanggil- manggil tikus untuk meminta tolong, tetapi kali ini tikus lebih cerdik. Ia berkata, “ kamu tidak memenuhi janjimu ketika aku menolongmu terakhir kali. Kali ini saya tidak akan menolongmu.”
Burung gagak berkata dalam hati, “ seandainya saya memenuhi janjiku, saya tidak akan sendirian dalam bahaya besar seperti ini.”” Huft.

(¯`*•.SINGA DAN GEMBALA •*´¯)


Suatu hari seekor singa di hutan tertusuk duri di kakinya. Saat ia berkeliling  di hutan,, ia merasa kesakitan, ia bertemu seorang penggembala, gembala itu sangat baik hatinya. Ia melihat singa itu sedang kesakian. Meskipu ia takut, ia mencabut duri yang ad di kaki singa. Ia sngat berterimakasih kepada sang gembala karena telah menolongnya. Beberapa hari berlalu dan singa tertangkap oleh raja.
Suatu hari sg gembala juga tertangkap oleh prajurit raja karena kejahatan yang tidak ia lakukan. Raja memerintahkan agar gebala itu diumpamakan ke singa yang buas. Tetapi keika singaa keluar dari kandang, ia mendekati sang gembala daan menjilat mukanya. Itu adalah siga yag telah ditolong oleh gembala. Raja terkejut.
Raja memanggil sang gembala dan sgara mengetahui cerita persahabatan mereka yang tak biasa.  Raja berkata, “ kalian berdua memang sahabat sejati, saya melepaskan kalian berdua.” Singa dan gmbal pergi bersuka cita.
                                                                                                                         

(¯`*•.KERA YANG CERDIK •*´¯)


Di zaman dahulu seekor  elang dan berang-berang membuat rumah mereka diseuah pohon. Di sangat pohon yang sama tinggal seekor kera yang cerdik bersama keluarganya.
Elang membuat sarangnya dipunck pohon sementara berang-berang bersama keluaganya hidup di bagian bawah pohon.
 Kera yang cerdik tahu bahwa anak-anak kecilnya tidak aman terhadp elang maupun bberang-berang. Iaa bermakksud mengusir kedua binatang itu.  Ia mendatangi elang dan berkata “ Berang-berang ingin memakan anak-anakmu. Kamu harus sangat berhati-hati. “ Lalu kera . Kera mendatangi berang-berang dan berkata, Elang akan mmemangsa anak-anakmu ketika kamu keluar mencari makanan. Kamu harus berhaati-hati.’’
Selama beberapa hari elang dan berang-berang takut keluar, bahkan untuk mencari makan. Akhirnya, baik elang maupu berang-berang pergi mencari tempat lain yang lebih aman. Kera merasa senang. Ia bergumam, “ Akhirnya, anak-anakku aman.” Demikian kecerdikan kera untuk melindungi keluarganya.

(¯`*•.KEPITING DAN RUBAH•*´¯)


Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor kepiting didalam laut.  Meskipun ia memiliki rumah yang aman dan makanan yang cukup, kepiting merasa bosan dan tak bahagia. Hingga suatu hari kepiting meninggalkan rumahnya di pantai dan pergi ke hutan terdekat.
Kepitinng memulai perjalanannya. Setelah beberapa langkah, kepiting iba di sebuah padang rumput. Di sekeliling ia dapat melihat rumput dan pepohonan. Kepiting sangat gembira. Tetapi tak lama kemudian ia merasa lapar, Di rumahnya yang lama sangatlah dekat dengan laut, sangat mudah untuk mencari makanan. Tetapi, di sini kepiting tidak tahu kemana harus mencari makanan.
Tiba- tiba seekor rubah menerkam kepiting. Tetapi kepiting menyerang rubah dengan sapitnya yang kuat. Rubah menyeringai kesakitan dan melepaskan kepiting. “  saya tidak tahu ternyata hutan sangat berbahaya, “ pikir kepitig.  I lalu memutuskan untuk kembali ke rumah lamanya. Ia berkata  pada diri sendiri, “ saya menganggap rumah lama saya membosaankan, tetapi sebenarnya aman dan cukup makanan. Seharusnya saya bahagia dengan apa yang sya miliki.”